SK Jangkar

Peta Lokasi dan Alamat
no map
Alamat:D/A Pejabat Pelajaran Daerah Kecil,
94500 Lundu, Sarawak
Pengumuman

Sila masukkan pengumuman mengenai "SK Jangkar" (maksimum 200 huruf).

Masih Ku Ingat ...

Ruangan ini hanya untuk cerita mengenai pengalaman belajar, mengajar atau melawat ke SK Jangkar sahaja. Cerita berunsur kebencian, politik, boleh menyinggung perasaan individu atau kumpulan yang lain dan lain-lain perkara yang tidak sihat tidak dibenarkan di sini.


Nezz
10/11/2011 03:03PM
Cerita Si Buta Dan Si Bungkung
Di suatu kampung tinggallah dua orang pemuda sebaya. Mereka bersahabat akrab sekali. Kemana pun mereka pergi selalu bersama. Boleh dikata tidak pernah terjadi pertengkaran di antara mereka. Jika yang seorang sedang marah, yang seorang lagi berdiam diri atau membujuk sehingga kemarahannya reda. Begitu juga jika ada kesulitan, selalu mereka atasi bersama.

Pada dasarnya, mereka memang saling membutuhkan karena keadaan tubuh mereka mengharuskan demikian. Pemuda yang satu bertubuh kekar, tetapi buta matanya; pemuda yang lain dapat melihat, tetapi bungkuk tubuhnya. Oleh karena itu, orang menyebut mereka si Buta dan si Bungkuk.

Si Buta sangat baik hatinya. Tidak sedikit pun is curiga kepada temannya, si Bungkuk. Ia percaya penuh kepada temannya itu, walaupun si Bungkuk sering menipu dirinya. Kejadian itu selalu berulang setiap mereka menghadiri selamatan. Si Buta selalu duduk berdampingan dengan si Bungkuk. Pada saat makan, si Buta selalu mengeluh.

“Pemilik rumah ini kikir sekali!” bisiknya kepada si Bungkuk agar jangan didengar orang lain. “Tak ada secuil pun ikan, kecuali sayur labu.”

Si Bungkuk hanya tersenyum karena keluhan temannya itu akibat ulahnya. Secara diam-diam ia memotong daging ayam yang cukup besar di piring si Buta dan ditukar dengan sayur labu. Akibatnya, piring gulai si Buta hanya berisi sayur labu.

Si Bungkuk merasa bahagia bersahabat dengan si Buta. Setiap ada kesempatan, ia dapat memanfaatkan kebutaan mata temannya untuk kepentingan sendiri. Si Buta yang tidak mengetahui kelicikan si Bungkuk juga merasa senang bersahabat dengan temannya itu. Setiap saat si Bungkuk dapat menjadi matanya.

Pada suatu hari, si Bungkuk mengajak si Buta pergi berburu rusa. Tidak jauh dari kampung mereka ada hutan lebat. Bermacam-macam margasatwa hidup di sana seperti burung, siamang, binatang melata, dan rusa.

Konon, pada waktu itu belum ada pemburu menggunakan senapan untuk membunuh hewan buruan. Penduduk yang ingin mendapatkan rusa atau binatang lain biasanya menggunakan jerat yang diseebut jipah (faring). Kadang mereka berburu menggunakan anjing pelacak dan tombak. Cara ini akan dipakai si Bungkuk dan si Buta untuk berburu.

“Kalau kita dapat membunuh seekor rusa, hasilnya kita bagi dua sama rata,” ujar si Bungkuk.
Tentu saja si Buta sangat gembira mendengar hal itu. itua segera menuntun anjing pelacak yang tajam India penciumannya, sedangkan si Bungkuk siap dengan tombak di tangan kanannya. Mereka berdua mengikuti arah yang ditunjukkan anjing pelacak itu.

Rupanya hari itu mereka bernasib balk. Seekor rusa jantan yang cukup besar berhasil mereka tombak. Tanduknya bercabang-cabang indah dan layak dijadikan hiasan dinding.

Si Bungkuk segera membagi rusa hasil buruan itu menjadi dua bagian. Akan tetapi, dengan segala kelicikannya, si Buta hanya mendapat tulang-tulang. Daging dan lemak rusa diambil si Bungkuk.

“Karena daging rusa sudah dibagi, kita masak sendiri sesuai selera kita,” kata si Bungkuk.

Si Buta menurut saja karena pikirnya memang demikian seharusnya. Padahal dengan cara itu, si Bungkuk bermaksud agar daging yang dimilikinya jangan secuil pun dimakan si Buta.

Walaupun si Buta tidak dapat melihat, kemampuannya memasak gulai tidak diragukan sedikit pun. Terbit air liur si Bungkuk mencium bau masakan si Buta. Si Bungkuk tidak pandai memasak.

Akhirnya, si Bungkuk dan si Buta menghadapi masakan rusa yang telah mereka masak dan siap menyantapnya.

“Sedaap!” kata si Bungkuk sambil memasukkan potongan daging yang besar ke dalam mulutnya.
“Nikmat!” kata si Buta sambil mengambil sepotong tulang yang besar dari piring dan menggigitnya. Si Buta bersungut-sungut karena yang digigit, ternyata tulang semua.

“Sayang,” katanya, “rusa begitu besar, tetapi tak punya daging! Besok kita berburu lagi, tetapi rusa itu harus gemuk dan banyak dagingnya.”
Si Bungkuk tersenyum mendengar perkataan si Buta. Si Buta merasa sayang jika tulang-tulang rusa yang telah dimasaknya dengan susah payah tidak dimakan. Oleh karena itu, is mencoba menggigit tulang itu lagi. Akan tetapi, tulang itu sangat keras sehingga tetap tidak tergigit.

Hal itu membuat si Buta semakin penasaran. la mengerahkan segenap tenaga dan menggigit tulang itu sekuat-kuatnya hingga bola matanya hendak keluar dari lubang mata.

Tuhan sudah menakdirkan rupanya. Keajaiban pun terjadi. Mata si Buta tidak buta lagi.

“Aku bisa melihat!” teriaknya kegirangan. Si Buta menatap sekelilingnya. Ketika is melihat tulang-tulang rusa di piringnya dan di piring si Bungkuk daging yang empuk, bukan main marahnya.

“Sekarang, terbukalah topeng kebusukanmu selama ini!” katanya.

Si Buta memungut tulang rusa paling besar, lalu si Bungkuk dipukul dengan tulang itu. Jeritan si Bungkuk meminta ampun tidak dihiraukannya sama sekali. Seluruh tubuh si Bungkuk babak belur. Seperti si Buta, keanehan pun terjadi pada si Bungkuk. Ketika la bangkit, ternyata punggungnya menjadi lurus seperti orang sehat. “Aku tidak bungkuk lagi! Aku tidak bungkuk lagi!” teriak si Bungkuk.

Mereka berdua menari sambil berpeluk-pelukan dan bermaaf-maafan. Persahabatan mereka pun semakin akrab.

Nezz
10/11/2011 03:00PM
Cerita rakyat : Kisah Pokok Siburan
Kisah Pokok Siburan

Pada suatu masa dahulu, Siburan, anak lelaki kepada Raja Manggeng dari Pulau Jawa telah berkahwin dengan seorang gadis jelita dari Siburan. Gadis jelita ini berketurunan Bidayuh, suku kaum etnik yang menetap di kawasan di sekitar Sungai Sarawak, Kebanyakan suku kaum Bidayuh pada ketika itu tinggal di kawasan tinggi. Mereka menanam padi bukit sebagai sumber makanan.

Siburan dan isterinya dikurniakan dua orang anak lelaki, Si Pungut dan Si Kadut. Mereka hidup dengan serba kesenangan. Ibu bapa mereka amat menyayangi mereka berdua.

Pada suatu hari, Siburan memberitahu sesuatu kepada isterinya, `Ibu dan bapa kamu sudah meninggal dunia. Anak-anak kita tidak lagi ada nenek moyang di Siburan. Lebih elok kita bawah mereka ke Pulau Jawa untuk menziarahi nenek moyang mereka di sana!”

Siburan pun mengarahkan rakan-rakan mereka untuk menyediakan kapal. Mereka menaikkan layar sutera dan seterusnya belayar menyusuri sungai. ’Kita akan berjumpa dengan datuk’ kata budak-budak itu. Sambil bertepuk tangan dan berlari ke atas dan ke bawah dalam kapal mereka, mereka berdua kelihatan begitu girang sekali.

Keriangan mereka menjadi hiba. Gelombang besar telah melanda kapal mereka dan kapal mereka telah tenggelam. Siburan, isterinya dan kebanyakan anak kapal tersebut turut terkorban. Walau bagaimanapun, nasib menyebelahi Si Pungut dan Si Kadut. Gelombang telah membawa kedua-dua mereka mendarat di pantai Santubong. Mereka berdua dibawa balik ke rumah panjang mereka di Siburan oleh beberapa orang rakan ayah mereka yang terselamat. Walau bagaimanapun mereka ini kembali ke Pulau Jawa dan meninggalkan Si Pungut dan Si Kadut untuk menjaga diri mereka di Siburan.

Suasana kehidupan di rumah panjang mereka penuh dengan ranjau dan duri. Ibu mereka telah meninggal dunia akibat bencana yang melanda ketika mereka dalam perjalanan untuk balik ke Pulau Jawa. Mereka tidak lagi mempunyai datuk dan nenek di rumah panjang di Siburan. Keadaan bertambah rumit apabila mereka tidak disenangi oleh orang kampung. Mereka iri hati kerana bapa mereka pernah menjadi Raja suatu ketika dahulu.

`Budak-budak ini fikir mereka mesti dilihat sebagai raja muda,’ kata orang kampung yang dengki dengan mereka. ’Mereka sepatutnya bekerja macam anak-anak kita’

Tetapi ini betul. Si Pungut dan Si Kadut memiliki padi uma. Walaupun tidak begitu besar, mereka berdua menanam padi cukup untuk keperluan harian mereka. Kadang-kadang mereka berdua pergi memburu dan memancing di Sungai Sarawak yang tidak jauh dari rumah panjang mereka. Jika mereka bekerja setiap hari mereka mempunyai bekalan sepanjang tahun dan jika mereka malas mengerjakan huma dan memburu mereka akan lapar kebuluran.

Ular Ajaib
`Esok kita akan menebas rumput di denai ke huma,’ kata ketua kampung kepada semua orang kampung pada suatu petang. `Setiap orang mesti membantu. Kita akan mula bekerja pada awal pagi.’

`Adakah kita berdua perlu ikut sama?’ tanya Si Kadut kepada abangnya Si Pungut.
`Ya, saya fikir begitulah,’ jawab Si Pungut. Denai itu agak jauh. `Saya bercadang untuk pergi memburu.’

Awal esok pagi semua kaum lelaki bergotong-royong menyediakan denai ke huma mereka. Si Pungut dan Si Kadut turut serta. Ketua Kampung memberi arahan kepada anak buahnya bagaimana untuk membuat denai dan menebas rumput menyusuri denai tersebut. Apabila sampai tengah hari, Ketua Kampung pun memangil: `Sekarang masa untuk makan. Duduk dan makan. Kita akan mula bekerja semula pada pukul satu petang nanti.’

Semua mereka yang hadir telah menikmati bekalan makan yang telah disediakan oleh isteri atau anak-anak mereka. Si Pungut dan Si Kadut tidak ada ibu, isteri atau kakak. Mereka tidak membawa bekalan. Yang ada hanya botol minuman. Mereka berdua hanya mampu melihat orang lain menikmati makanan yang disediakan oleh isteri dan anak masing-masing.

Tidak ada orang yang tanya mereka `ada bawa bekalan makanan.’ Tidak ada seorang pun yang sudi menjemput mereka berkongsi makanan yang telah dibawa oleh mereka.

`Mari sini,’ ujar Si Punjut kepada adiknya Si Kadut. `Saya berasa amat malu kerana kita berdua sahaja tidak membawa bekalan makanan.’

Si Kadut juga berasa amat malu. Mereka berdua berjalan jauh ke dalam hutan. Mereka berdua sungguh sedih. Mereka berdua tidak tahu arah ke mana hendak dituju. Mereka hanya mahu pergi jauh dari orang kampung yang kini sedang menikmati makanan pada tengah hari itu.

Tiba-tiba mereka kedengaran bunyi bising seolah-olah bunyi binatang yang terkena jerangkap. Mereka berdua pun pergi menyiasat. Mereka terkejut melihat seekor ular sawah yang terperangkap di celah-celah duri. Ular sawah itu didapati memusing badannya ke sana dan ke sini untuk melepaskan diri dari duri berkenaan namun tidak berjaya.

`Ular ini akan jadi makanan tengah hari kita,’ ujar Si Kadut. Lalu beliau pun mengambil parang. Abangnya menggelengkan kepala. Beliau memerhatikan bahawa ular ini bukan ular sawa yang biasa.
Si Pungut adalah betul. Ular tersebut adalah luar biasa!
`Kawan, tolonglah lepaskan aku,’ kata ular tersebut, bercakap seperti manusia biasa. `Tolong bebaskan aku dari duri-duri ini.’

Si Pungut pun terus memotong dahan dan duri berkenaan bagi membebaskan ular tersebut. Kemudian, dia memegang ular tersebut dengan kedua-dua belah tangan. Dengan pelahan dan penuh berhemat beliau berjaya menyelamatkan ular tersebut. Sambil darah terpancut dari kulit ular yang licin itu.
`Boleh awak balik sekarang, Pak Cik Ular?’ Si Pungut bertanya dengan penuh sopan.

Ular itu cuba menyusur ke hadapan. `Tidak, saya tidak dapat bergerak,’ katanya. `Boleh awak bawa saya balik,’ kata ular tersebut.
`Saya tidak tahu ular mempunyai rumah!’ Kata Si Kadut dengan teperanjat.
Si Pungut mengambil ular itu dan meletakkannya di atas tangannya. Sambil bertanya `adakah kamu selesa berada di sini, Pak Cik Ular?’ dan terus bertanya `tolong beritahu saya di mana rumah kamu?’
`Di sana, di atas gunung itu!’ jawab ular tersebut. Lalu dua beradik itu terus berjalan menuju ke gunung tersebut.

Rumah ular tersebut berada tidak jauh dari dari atas gunung. Sambil menjinjing ular tersebut Si Pungut dan Si Kadut terus berjalan meredah hutan. Setelah penat berjalan mereka berdua sampai ke gua tempat tinggal ular itu.

Sesudah sampai di rumah ular itu Si Pungut pun meletaklah ular tersebut di atas lantai. ’Terima kasih. Kamu boleh letakkan saya di bawah,’ kata ular tersebut. Si Pungut membongkok dan terus meletakkan ular itu di atas lantai rumahnya. Tetapi tiba-tiba kedengaran suara garang memekik dari dalam gua tersebut.

`Hoi hoi hoi!’ suara itu memekik. `Saya dapat mencuim bau manusia! Saya dapat cium daging manusia! Mari sini saya makan mereka!’
`Jangan marah, nenek!’ balas ular tadi. Tetapi dua orang budak tersebut tidak dapat melihat di mana nenek ular itu berada. Ini yang membuat mereka begitu takut dan seram.

`Hoi hoi!’ Kenapa pula saya tak marah,’ jawab suara dari dalam gua itu.
`Adakah kamu nak bagi tahu tak ada manusia di dalam rumah ini’ Kamu fikir saya ini bodoh? Saya boleh mencium mereka dengan hidung saya sendiri.’
`Ya betul, ada manusia di sini,’ jawab ular tersebut. Tapi mereka berdua manusia yang baik hati. Saya tersepit di celah duri dan mereka bantu membebaskan saya. Saya cedera dan tidak dapat berjalan, dan mereka membawa saya pulang. Tolong jangan makan mereka,’ kata ular itu.
`Jangan takut,’ bisik ular itu kepada Si Pungut dan Si Kadut. `Nenek saya tidak suka kepada manusia. Semasa dia masih kecil dia hampir dibunuh oleh pemburu. Kamu perlu balik sekarang. Tetapi sebelum balik saya bagi kamu berdua satu hadiah’. Ular itu pun mengongang badannya dan dua utas sisik bewarna keemasan terjatuh dari badannya.

`Simpanlah sisik-sisik tersebut,’ ujar ular itu. `Bawalah sisik-sisik itu ke puncak gunung lepas itu tanamlah ia apabila tidak ada bunyi burung berkicauan didengari. Jika burung `kusah’ berkicauan sisik itu tidak boleh ditanam di situ. Begitu juga jika burung `keriak’ menanyi. Naik sampai ke puncak gunung. Di situlah tempatnya,’ kata ular itu.
`Terima kasih, Pak Cik Ular’ kata Si Pungut dan beliau terus kutip seutas sisik. Adiknya Si Kadut pun turut mengambil seutas sisik sambil mengucapkan `Terima kasih, Pak Cik Ular.’ Mereka berdua pun terus beredar dari gua tersebut dan terus pulang ke kampung halaman mereka.

Pada esok harinya mereka berdua pun bangun awal. Mereka mendaki Gunung Siburan dan mencari tanah yang subur untuk menanam sisik yang telah diambil dari ular tersebut. Kebetulan pula musim sekarang ialah musim menanam padi dan hampir semua orang kampung mengerjakan huma mereka di kawasan sekitar Gunung Siburan. Sambil dua beradik ini berjalan melepasi huma petani-petani yang bekerja di huma mereka pun bertanya.

`Hei, ke mana kamu berdua pergi?’ tanya seorang petani.
`Ke puncak Gunung Siburan,’ jawab Si Pungut dengan penuh sopan.
`Bodoh,’ kata seorang wanita bernama Si Dia. `Tempat untuk menanam padi adalah di sini, bukan di puncak gunung itu.’
Si Pungut dan Si Kadut terus berjalan. Mereka merentasi huma, dusun durian dan hutan. Merendah hutan tebal dan cerun yang semakin tinggi.
`Tempat ini sesuai untuk menanam sisik ular itu’ Si Kadut tanya abangnya.
`Tidak, bukan tempat ini,’ jawab Sipungut. `Hutan di sini terlalu tebal. `Tumbuhan baru tidak akan membesar di sini’

Apabila mereka berdua sampai di puncak Gunung Siburan terdapat tidak banyak pokok lagi. Mereka berhenti dan mencari tempat yang rata.
`Kusah!Kusah!Kusah!’ bunyi burung Kusah berkicauan. Sambil mengingati pesanan Pak Cik Ular, kedua-dua beradik ini meneruskan perjalanan mereka ke puncak gunung tersebut. Dari puncak Gunung Siburan mereka berdua dapat melihat Sungai Sarawak yang mengalir dan tanah rata di bawah. Mereka berhenti untuk melihat tempat yang sesuai untuk menanam sisik tersebut.
`Kriak! Kriak! Kriak!’ bunyi burung Kriak berkicauan lagi. Sambil mengingati pesanan Pak Cik Ular, Si Pungut berkata `tempat ini tidak bernasib.’ Mereka terus berjalan menghampiri puncak Gunung Siburan di mana awan mencecah gunung tersebut. Sambil memeriksa keadaan sekeliling, mereka dapat melihat Gunung Santubong yang dikelilingi laut seolah-olah mengawal kuala Sungai Sarawak. Mereka berdua berdiam diri seketika sambil mendengar sama ada bunyi burung-burung yang berkicauan. Keadaan begitu sunyi, dan yang mereka dengar hanyalah bunyi angin yang bertiup.

`Inilah tempatnya,’ kata Si Pungut. Si Pungut dan Si Kadut terus mencapai parang panjang mereka dan menggali lubang. Mereka berdua terus menanam sisik yang diperoleh dari ular tersebut.
`Berapa lamakah masa yang akan diambil oleh sisik itu untuk menjadi pokok yang rendang’ tanya Si Kadut sambil mereka merangka pulang dari puncak Gunung Siburan.

`Saya tidak tahu,’ jawab Si Pungut.
`Kayu jenis apa yang akan tumbuh dari sisik ular,’ tanya Si Kadut lagi. Jawapan yang sama `saya tidak tahu’ diberi oleh Si Pungut.

Lebih kurang setahun tidak ada apa-apa yang tumbuh dari sisik ular tersebut. Sungguhpun demikian adik-beradik ini sering sahaja mendaki Gunung Siburan untuk melihat dengan sendirinya apakah perkembangan yang belaku dengan sisik ular yang telah ditanam oleh mereka, akan tertapi tidak ada benda ajaib yang akan belaku. Apa yang mereka lihat hanyalah pokok-pokok lain sahaja yang membesar dan semak samun tumbuh dengan suburnya. Selang beberapa bulan mereka tidak tahu lagi tapak di mana sisik tersebut ditanam.
`Kamu fikir Pak Cik Ular berbohong dengan kita?’ Si Kadut bertanya abangnya Si Pungut. Si Pungut hanya menggelengkan kepala. Dia pun tidak tahu. Dia tidak pernah berjumpa dengan ular ajaib sebelum ini.

Tetapi setahun selepas musim menaman padi pada tahun berikunya, Si Pungut dan Si Kadut pun pergi memburu. Mereka berdua menaiki Gunung Siburan lagi. Mereka terperanjat melihat sebatang pokok yang lurus dan sangat tinggi. Mereka terpaksa mendongak barulah mereka dapat melihat dedaun pokok tersebut yang lebat dan menghijau.

`Pokok jenis apa ini?’ tanya Si Kadut dengan abangnya. `Dan apakah jenis buah-buahan yang terdapat pada dahan pokok tersebut?’ Tanyanya lagi kepada abangnya.
`Pokok yang rendang ini ialah pokok balsa,’ jawab Si Pungut. ’Tetapi buahnya kelihatan berlainan kerana sungguh besar.’

Si Pungut dan Si Kadut memerhatikan pokok tersebut dengan penuh khusyuk. Si Pungut dapat melihat buah-buah istemewa dari pokok yang pernah ditanam. Gong-gong besar tergantung dari dahan-dahan pokok tersebut. Selain itu, terdapat juga beberapa buah pasu dan pingan yang berwarna hijau dan ungu, sambil daun-daunnya seperti kepingan duit perak. Tali pinggang perak dan manik-manik yang mengelingi pokok tersebut. Selaras `bedir’ terdapat di tengah-tengah batang pokok tersebut, dan beberapa kotak daun serih yang kekuningan juga boleh didapati pada pokok tersebut. Tidak ada penduduk di Siburan pernah melihat pokok ajaib sebigini. Tidak ada masyarakat Bidayuh di Siburan yang pernah mendengar tentang pokok itu.
Si Pungut dan Si Kadut hanya mampu berdiri sambil melihat ke atas, terpaku. Mereka berdua sungguh terperanjat dan mereka tidak percaya apa yang mereka lihat.

`Boleh kita panjat dan ambil apa-apa yang ada di atas pokok itu?’ tanya Si Kadut kepada abangnya.
Si Pungut menggelengkan kepalanya.`Kita tidak perlu barang-barang itu semua,’ dia menjawab. `Kalau kita kerja keras, kita boleh memperoleh apa-apa sahaja. Suatu hari nanti apabila kita memerlukan gong, gendang,`bedir’ kita boleh datang lagi untuk mengambilnya. Bukan sekarang,’ ujar Si Pungut.

Sibun Simambang rakan sekampung kedua-dua adik-beradik, Si Pungut dan Si Kadut, dari sebuah rumah panjang di Siburan pun turut memburu pada hari yang sama. Sibun Simambang pula memburu menyusuri sungai. Sibun Simambang ternampak seekor burung kenyalang, tetapi burng tersebut asyik terbang jauh. Setiap kali Sibun Simambang hendak menyumpit burung kenyalang tersebut ia pasti akan terbang lebih jauh. Sungguhpun demikian Sibun Simambang terus menjejaki burung kenyalang tersebut menjelajahi hutan belantara. Dia berjalan sepanjang hari dan akibat daripada perbuatan itu, beliau tersesat dalam hutan. Setelah senja tiba Sibun Simambang pun berasa dahaga dan lapar kerana tidak makan sepanjang hari.
Apabila malam sudah menjelang tiba, Sibun Simambang melihat rumah panjang di hadapannya. Dia bertanya dengan mereka yang berada di tanju.
`Bolehkah saya naik,’ dia tanya dengan penuh sopan santun.
`Ya boleh, sila naik! Jawab mereka balik. `Tidak ada berita yang kurang baik di rumah kami’

Apabila berada di rumah panjang tersebut Sibun Simambang berasa pelik. Beliau lihat pakaian mereka lain daripada apa yang beliau selalu lihat. Beliau dengar cara mereka bercakap, ia amat berbeza daripada apa yang beliau selalu dengar. Kini beliau sedar beliau berada di rumah musuh beliau! Nasib baik penduduk kampung itu tidak tahu asal usul beliau.
`Tinggallah dengan kami,’ kata seorang daripada mereka. Mereka menjemput Sibun Simambang untuk menikmati makan malam. Selepas semua sudah makan, mereka duduk mengilingi api, berbual sambil makan sirih.
Sibun Simambang rasa amat takut. `Jika mereka tahu saya dari Siburan mereka akan bunuh saya,’ beliau fikirkan. `Saya mesti buat sesuatu.’
Di dalam bekas bamboo yang digantung di tali pinggang beliau terdapat batu untuk menyalakan api, sebilah pisau yang tajam, dan sebiji pasu dan di dalamnya adalah kapur. Kapur itu telah disediakan oleh nenek beliau. Beliau merupakan seorang yang bijak khususnya dengan kata-kata azimat dan telah menjampi kapur tersebut. Maka, sesiapa yang mengambil kapur tersebut akan tunduk dan menjadi kawan beliau.

Sibun Simambung pun meletakkan pasu kecil itu di dalam tapak sirih. `Sila ambil kapur ini, kawan,’ katanya. Ia amat istemewa dan telah pun disediakan oleh nenek saya untuk dibahagikan kepada kawan-kawan saya,’ tambah beliau.
Penduduk rumah panjang itu pun merasa sedikit kapur tersebut dengan menyapunya di atas daun sirih. `Ya, sangat bagus’ kata mereka. ` tetapi, berasa pedas sedikit.’
Sibun Simambang pun memberi tapak sirih tersebut kepada semua yang berada di rumah panjang. Beliau memastikan bahawa semua yang berada di situ menikmati `kapur ajaib’ itu yang telah disediakan oleh nenek beliau. Selepas semua kaum lelaki merasakannya, beliau memberikan kapur ajaib itu kepada para wanita.

Anak gadis ketua kaum juga sangat suka memakan sirih. Beliau mengambil daun serih dan mengambil sebahagian besar kapur yang dibawa oleh Sibun Simambang dan menyapu kapur tersebut ke daun siruh beliau.
`Oh rasanya sungguh enak,’ kata beliau sambil senyum. Jadi mereka yang mengambil kapur tersebut akan bertambah mesra dan mereka yang mengambil dengan banyak pula akan kelihatan lebih mesra. Oleh sebab anak gadis ketua kaum tersebut telah mengambil kuantiti agak banyak maka beliau terus jatuh hati dengan Sibun Simambang.

Selepas Sibun Semambang tinggal di rumah panjang di Sibuyau itu untuk beberapa hari yang lalu, ketua kaum dari rumah panjang itu pun bertanya kepada beliau.
`Adakah kamu akan terus tinggal di rumah kami, anak muda?’ tanya beliau.
`Saya tidak pasti’ jawab Sibun Simambang. `Saya sepatutnya balik ke kampung halaman saya’
`Kamu boleh tinggal di sini sebentar. Lepas itu kamu boleh balik ke pangkuan isteri dan anak-anak kamu,’ kata ketua kaum itu. Lalu Sibun Simambang menjawab.
`Saya belum beristeri. Saya masih bujang’
Ketua kaum rumah panjang itu berasa gembira apabila mendengar jawapan daripada beliau. `Anak gadis saya bagi tahu yang dia suka dengan awak, orang muda,’ kata beliau. Lantas Sibun Simambang menjawab
`Anak gadis pak cik sungguh jelita.’ Memang anak gadis itu sungguh cantik dan anggun. Beliau berasa senang hati dan terus menjawab `Saya juga suka dengan anak gadis pak cik.’
`Saya boleh bagi kamu tanah untuk kamu tanam padi di sini jika kamu suka. Lepas itu kamu boleh tinggal di sini, atau kamu boleh kawhin dengan salah seorang anak gadis dari rumah panjang ini’
`Saya nak sungguh kahwin dengan anak pak cik, itu pun jika pak cik memberi kebenaran’ kata Sibun Simambang.

Ketua kaum pun senyum lebar. `Kita boleh berbincang kemudian,’ jawab beliau. Tetapi semua orang di rumah panjang telah mengetahui berita itu.
Pada sebelah petang seperti biasa penduduk rumah panjang duduk mengilingi unggun api. Mereka makan sirih dan merokok. Mereka semua bercerita tentang perkahwinan Sibun Simambang.
`Tetamu muda ini mesti bawa hantaran,’ kata mereka. `Ini ialah adat kita’
`Apakah jenis hantaran yang kamu maksudkan’ tanya Sibun Simambang. Beliau ialah seorang yang miskin. Ibunya juga ialah orang miskin.
`Oh, barangan biasa. Tidak perlu banyak. Hanya beberapa biji gong dan pasu, tali pinggang perak dan pingan berwarna hijau’
Sibun Simambang terasa malu. Beliau bukan insan yang berada. Tetapi beliau tidak mahu mendedahkan keadaan yang sebenarnya.
`Oh, hanya pinggan dan sebagainya. Saya memiliki beberapa gong dan pasu. Saya memiliki semua barangan yang sejelita itu kehendaki sebagai hantaran,’ beliau berbohong.

`Di mana kamu simpan barangan tersebut?’
`Oh, saya simpan di rumah panjang kami’
`Dan di manakah rumah panjang kamu?’
`Rumah panjang saya? Eh, tidak jauh, di hulu sungai....tetapi agak susah untuk pergi ke sana. Saya akan balik ambil semua barang tersebut,’ beliau memberitahu mereka.

`Saya juga perlu menjemput saudara-mara saya untuk menghadiri perkahwinan saya. Saya akan balik esok dan akan kembali ke sini dalam masa dua minggu’ kata Sibun Simambang.

Pada keesokan harinya, Sibun Simambang meminjam sebuah perahu dari masyarakat rumah panjang. Beliau berkayuh ke hulu sungei. Tidak lama beliau sampai ke Siburan. Beliau tidak tahu apa yang patut dibuat. Beliau telah memberitahu barangan yang beliau tidak mampu miliki. Dalam hatinya beliau tidak mahu balik ke Sibuyau. Walau bagaimanapun, beliau tidak dapat lupa akan si gadis jelita yang pernah beliau temui di Sibuyau. Tentu si jelita itu menanti kepulangan beliau.

Beliau tidak memberi tahu sesiapa apa yang telah belaku ke atas dirinya. Apabila ibu nya bertanya apa yang belaku, beliau hanya mampu mengelengkan kepalanya.
`Saya percaya anak saya telah terserempak dengan hantu di hutan’ fikir ibunya. Tetapi ibunya tidak memberitahu sesiapa.

Pokok Ajaib
Sibun Simambang akan pergi berjalan ke hutan setiap pagi. Beliau tidak tahu ke mana arah yang hendak ditujui. Pada satu hari Sibun Simambang berjalan ke arah Gunung Siburan. Di bawah panas terik matahari beliau berjalan dengan perlahan. Setelah sampai di puncak gunung tersebut beliau terus baring di bawah pokok balsa.

Ketika sedang baring beliau memandang ke atas pokok tersebut. Dedaun pokok itu bergoyang dan terdengar bunyi besi bergesel seperti bunyi loceng.
`Apa ini! Beliau berteriak sambil melompat. Pasu besar dan pinggan bergesel ditiup oleh angin, gong dan bedir berbunyi seperti loceng. Manik dan kepingan-kepingan duit perak bunyi berdering. Di atas pokok besar di atas Gunung Siburan ini tersimpan harta karun yang dimiliki oleh msayarakat Bidayuh!

Sibun Simambang melletakkan `tamboknya’ dan parangnya di atas tanah dan cuba memanjat pokok tersebut. Tetapi kulit pokok tersebut sungguh licin bak kain sutera. Pokok tersebut sungguh tinggi. Sibun Simambang tahu dia tidak mampu memanjat pokok tersebut tanpa bantuan. Beliau lari menuruni gunung tersebut dan balik ke rumah panjang. Beliau mahu semua orang kampung membantunya mengambil harta karun dari pokok tersebut sebagai hantaran kepada bakal isteri beliau.

Pada mulanya kawan-kawan beliau tidak percaya beliau. Bagaimankah pokok ini boleh menyimpan harta karun? Siapa yang menanamkannya? Mereka lari ke atas Gunung Siburan untuk melihat dengan sendiri sama ada ia betul atau tidak.
Sesampai mereka di atas gunung tersebut mereka kagum bahawa apa yang diceritakan oleh Sibun Simambang adalah benar belaka. Harta karun yang terdapat di atas pokok balas di puncak Gunung Siburan itu adalah benar. Tetapi tidak ada seorang pun tahu bagaimana untuk mengambilnya kerana pokok tersebut sungguh tinggi.

Ketua Kaum dari rumah panjang di Siburan pun turut serta. Tiba-tiba dia berkata `kita perlu memukul gong dan nyagat untuk menyembah pokok tersebut. Mungkin ia akan memberi kita hadiah jika kita minta dengan cara yang baik’
Dengan serta-merta beberapa orang pergi balik ke rumah panjang mereka sambil membawa gong dan gendang. Tidak lama kemudian pokok tersebut pun dikelilingi oleh penduduk kampung. Gong dan gendang itu dipukul bertalu-talu sambil mereka menanyi dan nyagat.

Tiba-tiba datang Si Dia, seroang gadis gemuk gedempol jalan tergesa-gesa menuju ke puncak gunung. `Apa kamu semua buat di sini?’ tanya Si Dia. `Pokok ini milik saya. Saya minta kalian semua jangan panjat pokok itu.’
Semua mereka yang berada di situ ketawa. `Kalau kamu miliki pokok ini, Si Dia, kenapa kamu tidak ambil harta karun yang terdapat di atas pokok itu?’ jawab mereka. `Kenapa kamu tidak panjat pokok itu?’ tambah mereka.
Si Dia merenung ke atas pokok tersebut. Lepas itu, beliau memakai kain merah mengilingi kepala dan juga lengan beliau. Beliau turut menari nyagat mengilingi pokok tersebut. Akan tetapi dedahan pokok tersebut terus bergoyang dan terus meninggi hingga mencecah langit biru.

`Berhenti, Si Dia!’ Kata ketua kaum kepada beliau. `Kamu tidak akan membuat sesuatu yang elok kepada kami’ Tarian ngajat kamu hanya membuat pokok itu tumbuh dengan lebih tinggi.’ Si Dia terus beredar dari situ sambil terasa amat hina dengan teguran daripada ketua kaum.
Ketua kaum melihat kelilingi beliau. Semua penduduk kampung berada di situ, tetapi dua beradik, Si Pungut dan Si Kadut tidak berada bersama-sama mereka.

`Pokok ini menghendaki semua orang berada di sini,’ kata beliau. `Di mana Si Pungut dan Si Kadut? Kamu mesti pergi mencari mereka.’
Dua orang muda yang berada di situ terus pergi mencari dua beradik tersebut di rumah panjang mereka. Sebaik sahaja mereka sampai di rumah panjang mereka berdua terus memanggil Si Pungut dan Si Kadut.
`Mari ikut kami ke puncak Gunung Siburan,’ kata mereka. `Terdapat sepohon pokok ajaib di atas sana. Mari kita pergi lihat bersama. Cepat!’
`Tidak’, jawab Si Pungut, `saya dan adik saya tidak mahu pergi bersama.’
`Kenapa kamu semua tidak menjemput kami ketika semua orang berada di puncak Gunung Siburan?’ tanya Si Pungut.

`Marilah, jangan bodoh!’ kata orang muda itu. `Kamu berdua ialah anak yatim. Kamu orang papa kedana. Kamu patutnya jangan bercakap sombong.’
Kedua adik-beradik ini terasa amat hina apabila mereka mendengar kata-kata yang diluahkan oleh orang muda itu tadi. Mereka terus berkurung di dalam bilik mereka dan enggan keluar. Kedua-dua orang muda yang menjemput mereka terpaksa balik ke puncak Gunung Siburan tanpa kehadiran Si Pungut dan Si Kadut.

`Kita telah melakukan kesilapan,’ kata ketua kaum mereka apabila kedua-dua orang muda itu sampai ke puncak gunung. `Si Pungut dan Si Kadut adalah betul. Mereka sepatutnya dijemput bersama-sama dengan kita. Adalah salah untuk mengasingkan mana-mana orang. Mari, kita pergi bersama-sama menjemput mereka,’ katanya.

`Menjemput dua beradik yatim piatu itu?’ tanya mereka dengan penuh hairan.
`Ya, kita semua perlu berjalan balik ke rumah panjang dan menjemput mereka bersama,’ ujar ketua kaum. `Adalah menjadi adat kita untuk menjemput semua jika sesuatu yang belaku. Pokok ajaib tersebut pun turut marah. Jum mari!’
Pada mulanya Si Pungut dan Si Kadut tidak mahu ikut mereka. Akan tetapi setelah puas dipujuk oleh ketua kaum mereka berdua bersetuju. Si Pungut dan Si Kadut terus mengambil tambok dan parang dan mengikut ketua kaum menaiki Gunung Siburan. Sebaik sahaja pokok ajaib itu melihat kalibat Si Pungut dan Si Kadut ketinggian pokok itu terus turun. Mereka yang berada di atas puncak gunung itu kelihatan begitu gembira.

`Sekarang kita boleh ambil harta karun yang terdapat di pokot ajaib tersebut,’ kata mereka. Ada segelintir yang berada di situ cuba panjat tetapi tidak dapat berbuat demikian kerana kulitnya sungguh licin. Pokok itu masih terlalu tinggi untuk dicapai.

Ketua kaum seterusnya mengarahkan orang kampung untuk menyediakan tikar dan menjemput Si Pungut dan Si Kadut duduk di atas tikar tersebut. Selepas itu, beliau mengarahkan kaum wanita yang berada di situ untuk masak makanan yang lazat untuk kedua-dua beradik tersebut. Ketinggian pokok itu menurun apabila Si Pungut makan paha ayam yang telah digoreng. Apabila Si Kadut menikmati tempoyak goreng ketinggian pokok itu pun terus turun. Walau bagaimanapun, pokok ajaib itu masih sukar untuk dipanjat.
Sebaik sahaja mereka habis menjamah makanan dan minuman, ketua kaum menyuruh orang kampung main gong dan canang.

`Sekarang saya dengan hormatnya mempersilakan anak-anak mendiang Raja Siburan, cucu-cucu kepada mendiang Raja Manggeng, untuk mempersembahkan ngajat mengilingi pokok ajaib itu’ ujar ketua kaum dengan penuh sopan.
`Kami berasa sungguh bangga,’ jawab Si Pungut dan Si Kadut dan mereka bangun.

Mereka ngajat mengilingi pokok tersebut mengikuti rentak pukulan gong.
Dedahan pokok ajaib itu bergoyang. Pokok ajaib itu goyang ke kiri dan ke kanan, ketinggiannya semakin turun. Tidak lama kemudian ketinggiannya hanya mencecah aras ketinggian manusia biasa.

`Orang kampung berteriak kegembiraan dan mereka terus mara ke hadapan.
`Berhenti, berhenti! Jangan pegang dan ambil apa-apa!’ teriak ketua kaum. `Biarkan Si Pungut dan Si Kadut mengambil buah pertama dari pokok ini. Pokok ajaib ini milik mereka berdua!’

`Si Pungut terus mengambil setiap satu barangan yang terdapat di atas pokok tersebut. Dia mengambil seutas gong, selaras bedir yang berkilat, seutas tali pinggang perak, pasu berwarna kelabu, satu pinggan hijau, manik yang berwarna-warni, sebungus duit perak, sekotak bekas sirih, dan taram yang tinggi. Sebaik sahaja habis, Si Kadut muncul ke depan dan mengambil satu-persatu barang tersebut mengikut Si Pungut.

`Kami berdua telah mengambil bahagian kami masing-masing. Sekarang kami ingin menjemput ketua kaum dan kawan-kawan sekampung untuk ambil bahagian mereka masing-masing. Satu-persatu mereka mangambil harta karum yang terdapat di atas pokok ajaib tersebut.

Sibun Simambang mengambil semua yang diperlukan dan menyimpankannya di dalam tambok, sambil senyum lebar. Dia sekarang tengah memikirkan si gadis jelita di Sibuyau. Sekarang dia telah memiliki hantaran yang telah dijanjikan kepada gadis tersebut. Ia datang kepada beliau seolah-olah hadiah itu datang dari kayangan.

Apabila semua mereka telah mengambil harta karun dari pokok tersebut, maka tiba-tiba dahan-dahannya pun bergoyang. Dedaun nya mula menggerisik, dan batang pokok tersebut kembali menjadi semakin tinggi hingga mencecah awan biru. Sibun Simambang pun membawa tamboknya menuruni Gunung Siburan. Dia sungguh gembira dan berjalan dengan pantas sekali.

`Datanglah ke perkawinan saya di Sibuyau!’ katanya kepada kepada rakan-rakan sekampung. `Datang dalam masa tujuh hari lagi’
Akan tetapi ada seorang yang tidak memiliki apa-apa bahagian – Si Dia. Apabila orang kampung tertawakan beliau, Si Dia merajuk dan berjalan jauh ke dalam hutan. Dia tidak berada di puncak Gunung Siburan apabila Si Pungut dan Si Kadut ngajat. Apabila Si Dia balik, semua barangan berharga dari pokok itu telah habis diambil. Yang belum diambil hanya sebiji pasu yang telah retak.

`Si Dia sungguh kecewa dan meradang. Dia menangis dan menyumpah. Beliau lari mengelilingi pokok tersebut sambil menumbuknya dengan tangannya dan ditendangnya dengan kakinya.

`Kamu pokok derhaka! Dia menyumpah. `Kenapa kamu tidak bagi saya harta karun itu! Apa yang boleh saya lakukan dengan pasu yang retak ini?’
Mereka yang berada di situ ketawakan wanita yang sedang berang itu. Tidak ada orang pun yang cuba mententeramkan beliau. Tidak ada orang yang cuba bercakap dengan beliau, dan tidak ada orang kampung yang sanggup memberi hadiah kepada beliau.

Tidak ada orang yang menyaksikan bahawa awan biru tiba-tiba menjadi gelap. Mereka hanya ketawa melihat gelagat wanita yang gemuk gedempul itu. Tiba-tiba Si Dia ambil pasu yang retak itu dan membalingkannya ke arah pokok tersebut.

Tiba-tiba terdengar bunyi guntur dan kilat sambung-menyambung. Terdengar suatu benda terjatuh. Semua orang percaya bahawa langit terjatuh. Tetapi apa yang berlaku pokok tersebut telah rebah menyembah bumi.
Pokok yang sebesar Siburan telah tumbang. Ia sungguh panjang dan akarnya terdapat di Sarawak. Dahan-dahannya yang masih penuh dengan harta karun jatuh di kampung Sikung di daerah Sambas. Akibatnya tidak ada orang dari Siburan dapat memiliki mana-mana harta karun dari pokok tersebut.
Inilah yang menyebabkan masyarakat di Sikung memiliki harta pusaka sama dengan mereka dari Siburan. Sungguhpun mereka dari Sikung bertutur dalam dialek yang berbeza, tetapi mereka ialah rakan yang akrab dengan mereka dari Siburan. Mereka tidak pernah bergaduh sesama sendiri. Mereka sering berkunjung ke kampung masing-masing walaupun ia mengambil masa lebih kurang tiga hari berjalan kaki.

Sebatang pokok balsa tumbuh di tebing sungai di Sikung. Ia menandakan tempat di mana pokok itu rebah. Ada orang menyatakan pokok balsa baru ini tumbuh dari dahan pokok balsa yang terdapat di puncak Gunung Siburan. Oleh itu, masyarakat Bisikung akan sentiasa memuja pokok tersebut setiap kali perayaan diadakan di kampung mereka. Siapa tahu, suatu hari nanti pokok itu akan berbuah sekali lagi!

Cerita Rakyat ini diceritakan kepada penulis oleh mantan Penghulu Midun Anak Jagat. Mantan Penghulu Midun Anak Jagat berasal dari Kampong Mambong, setelah berhijrah dari Gunung Siburan ketika usia masih muda.
Sila login untuk menghantar cerita anda.
update listing
Free Subscription
Education related businesses such as:
  • tuition centres
  • home tuition
  • music class
  • dancing class
  • taekwando class
  • kindergartens
  • or any related categories
are encourage to subscribe the FREE listing here.